Perangkat Pembelajaran

KEGIATAN GURU (Materi Menyimak/Listening)

1. Presentation Stage
This stage is very important because it is the first time the linguistic material students must learn is presented. For false beginners, each unit in the Module 1 Plus starts with the section Recalling Vocabulary. In this section, students are guided in their efforts to recall and reuse the lexical items needed for the functions and structures contained to the unit.
The vocabulary and the structures are then contextualized in a dialogue. It is imperative that students clearly understand from the outset what is presented.
Teachers may adopt various techniques, and the expert teacher is able to select the most suitable according to the type of material he/she is using and his/her teaching situation. The techniques described here have been tested by the authors and many other experienced teachers over many years of teaching. Nevertheless, the techniques we suggest may be varied and adapted to fit various teaching situations.

1. Langkah Presentasi
Langkah ini adalah sangat penting sebab menjadi material ilmu bahasa pertama kali yang diperkenalkan pada para siswa yang harus dipelajari. Karena materi awal masing-masing unit di dalam Modul 1 dimulai dengan bagian Kosa kata. Di dalam bagian ini, para siswa dipandu dalam usaha mereka untuk mengingat dan menggunakan kembali materi yang berhubungan dengan kamus perlu untuk struktur dan fungsi berisi kepada unit.
Kosa kata dan struktur kemudian adalah contextualized di dalam suatu dialogue. Adalah sangat mendesak yang para siswa yang dengan jelas memahami sejak dari permulaan apa yang diperkenalkan.
Para guru boleh mengadopsi berbagai teknik, dan tenaga ahli guru bisa memilih yang paling pantas menurut jenis materinya sedang menggunakan dan mengajarinya situasi. Teknik diuraikan di sini telah diuji oleh pengarang dan banyak para guru yang berpengalaman lain di atas banyak tahun pengajaran. Meskipun demikian, teknik yang kita sarankan mungkin adalah bervariasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai pengajaran situasi yang cocok.

a) Pre-listening activities
Since language always depends on the situation the speakers are in, before asking students to listen to the recorded dialogue, the teacher should help them recognize and consider the various elements of the situation of communication. Teachers may ask questions such as: Who it speaking? Who is he or she speaking to? Where are the speakers? What do you think they are talking about? What relationship is there between the speakers?
This can be done from the very first lesson with the help of the illustrations and using the students’ mother tongue. Precisely for this reason, some of the illustrations have been made large enough to visualize the overall situation clearly and easily transmit cultural information. It is obvious that English can be used more frequently as student progress in learning.
There are many levels of interpretation in “reading” a picture. Four levels of speculation are suggested here:

a) Pre-Listening aktivitas
Sejak bahasa selalu tergantung pada situasi para pembicara adalah di dalam, sebelum para siswa untuk mendengarkan percakapan yang direkam, guru perlu membantu mereka mengenali dan mempertimbangkan berbagai unsur-unsur dari situasi komunikasi. Para guru boleh menanyakan pertanyaan seperti: mengatakan? Siapakah ia atau dia berkata kepada? Di manakah semua para pembicara? Apa pendapat anda tentang mereka berbicara tentang? Apa hubungan ada di sana antara para pembicara?
Ini bisa dilakukan dari pelajaran yang sangat awal dengan bantuan dari ilustrasi dan menggunakan bahasa ibu siswa yang dengan tepat untuk alasan ini, sebagian dari ilustrasi telah buat besar cukup untuk mengkhayalkan keseluruhan situasi yang dengan jelas dan dengan mudah memancarkan informasi budaya. Adalah jelas nyata Bahasa Inggris dapat digunakan lebih sering ketika para siswa maju di dalam pelajaran.
Ada banyak tingkatan penafsiran di dalam “pembacaan” suatu gambar. Empat tingkatan spekulasi diusulkan di sini:

b) Listening
Students listen to the dialogue once or twice without pauses and then discuss the answers to the listening purposes given in the book or by the teacher.

b) Mendengarkan
Para siswa mendengarkan percakapan sekali atau dua kali tanpa sela dan kemudian mendiskusikan jawaban dengan mendengarkan tujuan menyerah buku atau oleh guru.

c) Predicting the utterances of the dialogue
The teacher may ask students to reconstruct the utterances of the dialogue asking questions such as: Who speaks first? What does he/she say? Then, the students listen to the actual utterance in confirm or reject their hypotheses. The teacher stops the CD player and asks other questions like: What do you think Eddy will answer? and students provide suitable answers. The teacher plays the CD player again. Then he/she asks other questions to elicit all the other utterances of the dialogue. It is important that students listen to each utterance after they have made a series of hypotheses.
This procedure is used to encourage students to predict most or the utterances contained in the dialogue. The teacher must accept all of the students’ predictions, provided they are appropriate to the situation of communication. This is to ensure that shy students are not discouraged from mentioning their predictions when these are continually rejected by the teacher.

c) Penggambaran kesimpulan ucapan dari percakapan
Guru meminta para siswa untuk merekonstruksi ucapan dari percakapan tanyakan pertanyaan seperti: Yang telah dibicarakan terdahulu?. apa yang ia katakan? Kemudian, para siswa mendengarkan ucapan yang nyata di dalam mengkonfirmasikan atau menolak hipotesis mereka. Guru menghentikan CD dan menanyakan pertanyaan lain seperti: Apa pendapat anda tentang Pusaran akan menjawab? dan para siswa menjawab pantas. Guru memutar CD lagi. Kemudian ia menanyakan pertanyaan lain untuk menimbulkan semua ucapan lain dari percakapan. Adalah penting para siswa itu mendengarkan masing-masing ucapan setelah mereka sudah buat satu rangkaian hipotesis.
Prosedur ini digunakan untuk mendorong para siswa untuk meramalkan paling atau ucapan terdapat di percakapan itu. Guru harus menerima semua ramalan siswa, menyajikan mereka adalah sesuai kepada situasi komunikasi. Ini akan memastikan bahwa para siswa malu tidaklah ditakut-takuti dari menyebutkan ramalan mereka ketika ini secara terus menerus ditolak oleh guru.

d) Listening and repetition
Students listen to the dialogue with pauses and repeat the utterances. When students repeat the dialogue for the first time it is advisable that they do not see the written version, in order to avoid interference due to the discrepancies between sounds and their written symbols.
If teachers consider it useful, they can ask the class to repeat the utterances in chorus, then in groups of students (for example whole rows) and finally individually.
When, interference from the written text is reduced to a minimum, students can repeat the utterances by reading from their books.

d) Mendengarkan dan pengulangan
Para siswa mendengarkan percakapan dengan sela dan mengulangi ucapan itu. Ketika para siswa mengulangi percakapan untuk pertama kali sebaiknya mereka tidak melihat versi yang tertulis, dalam rangka menghindari gangguan campur tangan dalam kaitan dengan pertentangan antara bunyi; serasi dan lambang ditulis mereka.
Jika para guru mempertimbangkan manfaatnya, mereka dapat meminta kelas untuk mengulangi ucapan di dalam paduan suara, kemudian di dalam kelompok para siswa ( sebagai contoh baris utuh) dan akhirnya secara individu.
Ketika, gangguan campur tangan dari teks yang tertulis dikurangi menjadi seminimum mungkin, para siswa dapat mengulangi ucapan dengan pembacaan dari buku mereka.

e) Reading out loud
Reading out loud should be done by groups of students either at the same time or one after the other. Each member of a group reads out loud the utterances of one character

e) Membaca dengan suara keras nyaring
Membaca dengan suara keras nyaring harus dilaksanakan oleh kelompok para siswa baik pada waktu yang sama maupun satu demi satu; berturut-turut. Masing-Masing anggota suatu kelompok membaca dengan suara keras nyaring ucapan satu karakter.

f) Reconstruction of the dialogue
The reconstruction of the dialogue must obviously be carried out with books closed. The teacher asks question; to help students reconstruct the dialogue: Who speaks first? What does he/she say? How does Susan answer? What happens now? etc.

f) Rekonstruksi percakapan
Rekonstruksi dari percakapan harus sungguh-sungguh dilaksanakan dengan buku dinutup. Guru menanyakan pertanyaan; untuk membantu para siswa merekonstruksi percakapan: yang terdahulu? . apa yang ia katakan? Bagaimana cara Susan jawaban? Apa yang terjadi sekarang? dll.

g) Dramatization
At this point, the dialogue will have been memorized by almost all the students, who will therefore be able to act it out. This is always extremely interesting and fun for students, and it would be a pity to dedicate only a short time to this activity. If the lesson is almost over, it would be better to postpone this activity until the following lesson thus giving all students, even the slowest enough time to memorize the entire dialogue at home.
It is advantageous to use “props”, if the students have them available where necessary (the teacher or the students can procure them). Other students not directly involved in the activity in question can provide background noise (a doorbell ringing, a door opening, etc.), or they can act as “extras'”. The whole activity should be carried out in a lively playful atmosphere in order to reassure stage-shy “actors”, and also encourage shy students. The teacher should coordinate the activities, but also be able to remain in the background at the right time and, when necessary, suggest forgotten lines. He/she should avoid correcting students. Correcting can be done after the acting is over.

g) Sandiwara berdasar cerita nyata
Dalam posisi ini, percakapan akan telah dihafalkan oleh hampir semua para siswa, siapa yang akan bertindak ia ke luar. Ini selalu sangat menarik dan menyenangkan untuk para siswa, dan itu suatu kasihan agar mempunyai dedikasi hanya dalam waktu singkat aktivitas ini. Jika pelajaran hampir berakhir, lebih baik untuk menunda aktivitas ini sampai pelajaran berikut agar memberi kesempatan pada para siswa, bahkan yang paling lambat cukup waktu untuk menghafal keseluruhan percakapan di rumah.
Menguntungkan untuk digunakan “penyangga”, jika para siswa memilikinya jika perlu (guru atau para siswa dapat memperolehnya). Para siswa lain tidak secara langsung yang dilibatkan di dalam aktivitas yang dimasalahkan dapat menyediakan derau latar (suatu bel pintu yang membunyikan, suatu pintu yang membuka, dll.), atau mereka dapat bertindak sebagai “fasilitas ekstra'”. Keseluruhan aktivitas harus dilaksanakan bagi siswa yang suka melucu lincah dalam rangka menenteramkan hati stage-shy “para aktor”, dan juga mendorong para siswa yang pemalu. Guru perlu mengkoordinir aktivitas, tetapi juga bisa tinggal di belakang layar di waktu yang tepat, perlu, saran bentuk yang terlupakan. Ia perlu menghindari mengoreksi para siswa. Mengoreksi bisa dilakukan setelah akting selesai.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s